Besok aku aniv with pacarku tecinta Galih yang ke-12th, aku nggak bisa
ngasih apa-apa sama dia. Aku cuma bisa ngasih surat buat dia yang sudah 4
kaliku ulang karena kena darahku tapi aku tetap berusaha buat ngasih
yang terbaik buat mypacar hehe.
Sudah 2 tahun ini aku seperti ini selalu mengeluarkan darah dari
hidungku, aku sudah berusaha untuk nggak mengeluh dan tetap semangat
untuk sembuh tapi sialnya stadiumnya malah naik 1 tingkat.
Aku nggak kepengen liat ibu nangis kayak waktu penyakit ini
kumat-kumatan, semangat dong semangat. Ibu aku nggak akan penah buat ibu
nangis lagi yah.Tenang aja buk, janji Dwik mah selalu bisa di pegang.
Hmm, aku jadi kangen ayah. Ayah apa kabar yah di sana? Ayah kedinginan
nggak di sana? Andaikan aku bisa memeluk ayah lagi kayak dulu.
Suratku udah selesai nih buat mybebeb tercinta hehe meskipun udah
berulang kali ngulang akhirnya jadi juga besok tinggal di kasih sama
mybebeb.
“Wik, bantu ibuk yuk wik?” Suara ibu memanggilku dari luar.
Pasti ibu butuh bantuan. Pikirku, aku segera mengambil tissue dan
membersihkan darah yang masih ada di hidungku dan segera berlari pergi
dari meja belajar yang kutinggalkan surat yang bertuliskan For My live
Gilang :* “Iya buk, kenapa?”
“Ini bantuin ibuk jemur pakaian yah? Ibuk mau masak dulu yah cantik.”
Kata ibuku.
“Iya bu, pokoknya beres deh kalau sama Dwik mah”
Ibuku segera masuk ke dalam rumah dan aku mulai menjemur pakaian-pakaian
itu. Kok kepalaku pusing yah? Hah? Darah lagi?Nggak bosen-bosennya yah
gangguin aku dan kehidupanaku? Aku nggak boleh nyerah sama kamu, kamu
itu cuma mau ngancurin aku aja. Aku mengelap hidungku dan meneruskan
lagi tugasku.
“Dwik…” Mala yang kebetulan lewat dan menyapaku membuatku terkejut.
“Ya?”
“Wik, ntar sore jadikan ikut pengajian di Musholah belakang?” Walaupun
masihumur 18 tahunan yang kata orang biasanya suka ke Mall ngabisin uang
orang tua aja tapi bagi aku dari pada kayak gitu nggak jelas banget
mending ngabisin waktu dengan ikut pengajian gitu.
“Oh iyaiya, jadi kok.” Aku hamper lupa kalau hari ini ada pengajian
maklum gara-gara penyakit sialan ini.
“Yaudah, ntar aku jemput kayak biasa yah wik?” aku hanya tersenyum tanda
bahwa aku menyetuji ajakannya “aku pulang duluan yah Wik,
Asslamualaikum”
“Wa’alaikumsalam”
***
Sore ini aku bersiap-siap untuk mengikuti pengajian, aku memakai baju
muslim dan jilbab persegi yang tak lupa kuhiasi dengan bross kecil yang
lucu di sudut kiri jilbabku. Melihat diriku di kaca seakan-akan sebentar
lagi aku akan meninggalkan dunia ini. Haduh, mikirin apalagi sih aku
ini.
“Buk…” aku mencari ibuku untuk berpamitan “buk, Dwik mau ke
musholah mau ikut pengajian, ibu di rumah sendirian nggak apa-apakan?”
“Iya, nggak apa-apa”
“Ibuk, jangan sedih dan nagis lagi yah?” spontan aku ngomong begitu
dengan ibuku “Dwik, nggak apa-apa kok buk” aku cuma memberikan senyuman
termanis yang belum pernahku berikan kepada orang lain “ibuk, harus
janji sama Dwik kalau ibuk nggak akan sedih lagi, nggak akan nangis
lagi”
Ibuku hanya tersenyum menahan air matanya “iyaWik, ibu janji sama Dwik
ibuk nggak akan nangis lagi, ibuk nggak akan sedih lagi yaudah itu si
Mala udah nunggu di depan.”
“Iya buk, Dwik pergi dulu yah” aku mencium tangan ibuku lalu pergike
Musholah dengan perasaan tak enak.
***
Adzan Magrib berkumdang waktunya seluruh umat Islam melaksanakan sholat
Magrib begitupun denganku dan yang lain, pada rakaat terakhir aku berdoa
dan seketika itu kepalaku mulai terasa pusing lagi.
Ya Allah jaga ibuku jika aku pergi, jangan biarkan dia mengeluarkan air
mata lagi gara-gara aku, aku nggak mau liat ibu sedih. Ya Allah jaga
Gilang, jangan sampai dia sakit karena aku pergi meninggalkannya, aku
nggak mau kalau itu terjadi, aku nggak tega liat ibu dan Gilang sedih,
Tolong sembuhkan aku tapi jika engkau memang mengkehendaki aku pergi
dari sisi mereka aku ikhlas tapi aku nggak yakin mereka bisa ikhlas
kehilangan aku.
Kepalaku terasa pusing, aku tak bisa membangunkan tubuhku rasanya berat
sekali sangat berat, aku tak sanggup lagi. Gelap, semuanya terasa gelap
bagiku.
***
“Wik, bangun Wik. Dwik nggak boleh tinggalin ibuk” ibu Dwik menangis
melihat anaknya yang sudah terbujur kaku di atas kasur karena kangker
otak yang sudah semakin ganas di dalam tubuh Dwik tapi Dwik tetap
berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya itu.
“Wik, hari ini kita aniv yang ke-1 tahunWik tapi kenapa kamu ninggalin
aku Wik?” Gilang yang belum percaya dengan keadaan sekarang terus
menerus memanggil Dwik.
Ibu Dwik bangkit dan berjalan menuju kekamar Dwik sedangkan Gilang masih
tetap memegang tangan Dwik yang sudah kaku.
“Gilang” ibu Dwik muncul dengan sepucuk surat, yah surat, surat yang
akan menjadi kado untuk aniv Gilang dan Dwik yang ke-12th “Gilang,
mungkin cuma ini yang bisa di berikan Dwik sama kamu”
Gilang mengambil surat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan mulai
membaca surat itu. Air mata seorang cowok yang benar-benar tulus
mencintai seorang wanita itu mengalir ketika membaca surat itu.
Hai Gilang, mungkin ini kado terakhir yang bisa aku kasih ke kamu yah
sayang :* ini bener-bener kado yang special bagiku, tau nggak sih, aku
udah hampir 5 kali ngulang buat surat ini karena kena darahku hehe =D
maaf yah sayang kalau aku udah bohong sama kamu :) aku nggak mau liat
kamu sedih, kamu harus janji sama aku kalau aku udah pergi nanti kamu
nggak akan nangis dan aku nggak mau liat kamu sedih. Oh, iya Happy
Anniversary dear, you are the last person that I love and you are the
one that can make me the spirit than mother :)
Dwi Laraswati
END
Crieted by Della Audita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar