Rabu, 01 Oktober 2014

Cerpen - Rahasia Burung-Burung

Hari ini hari senin, seperti biasa seluruh siswa-siswi di manapun pasti mengadakan upacara pagi untuk menghormati jasa-jasa pahlawan yang sudah rela berkorban demi negara Indonesia tercinta ini begitupun sekolahku SMA Muhammadiyah 1 Palembang lebih tepatnya.
“La, lo gak apa-apakan?” tanya Shella sahabatku yang sejak tadi melihatku tak bersemangat.
Aku menggelengkan kepalaku “Gue gak apa-apa kok.” Aku memberikan senyuman kepada Shella agar dia percaya.
“Burung-burung itu terbang dengan bebas di langit sesuka mereka. Aku ingin menjadi burung-burung itu yang bebas dan terlihat seperti tak ada sedikitpun masalah dan kesedihan yang menerpanya.” Kataku dalam hati sambil melihat burung-burung yang terbang bebas di langit itu.
“Eh Filla, kenapa sih lo ngelamun gitu? Kesambet yah loh?” Tanya Lia teman sebangkuku di kelas.
“Lo mah ngagetin aja. Enak aja kesambet.” Aku terkaget karena Lia dari tadi menyenggol-nyenggolku dan itu membuat lamunanku buyar.
“Abis dari tadi lo ngelamun aja. Udah hampir selesai upacaranya, habis upacara temenin gue ke kantin yah?” Lia sambil senyum-senyum, itu tandanya dia lagi memohon kepadaku.
“Yeh, lo mah ke kantin mulu, gak ada tempat lain apa selain kantin? Perpus gitu.” Cetus Shella tiba-tiba yang dari tadi baris di belakangku.
Upacara sudah selesai bel sudah berbunyi sekarang waktunya seluruh murid untuk memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku, Shella, dan Lia, di kelas aku mengeluarkan buku yang sering aku tulis dan aku mulai menulis di buku itu.
Aku ingin seperti burung-burung yang bisa terbang bebas di langit tanpa ada masalah maupun kesedihan.
“Liat dong.” Raka mengambil buku yang sedang aku tulis sambil menyuruhku untuk beranjak pindah dari tempat yang aku duduki sekarang.
“Kalau mau liat yah liat aja gak pakek geser-geser kali.” Aku mulai beranjak dari kursi itu dan pindah ke sebelahnya.
“Hehe. Burung-burung itu gak bebas terbang di langit sana. Mereka terbang untuk berusaha mencari makan, mereka juga harus berhati-hati agar gak di serang oleh musuhnya. Hidup mereka tuh terancam, jika mereka gak bisa menjaga dirinya sendiri maka mereka akan mati.” Setelah Raka berbicara begitu dia langsung pergi begitu saja dan menaruh bukuku di atas meja. Aku hanya melihatnya berjalan keluar kelas.
Pulang sekolah ini aku ingin pergi ke perpustakaan bersama Shella untuk mencari tugas sekalian mau nyari novel buat baca-baca di rumah.
“Shel, menurut lo si Raka tuh orangnya aneh gak?” Tanyaku kepada Shella karena aku masih penasaran dengan Raka meskipun aku sudah hampir setahun sekelas dengannya tetapi aku seakan-akan tak pernah kenal dengannya.
“Aneh gimana? Perasaan dia tuh lucu, ganteng, imut, pinter, jago main basket pula.” Jawab Shella.
“Nah, itu dia. Lo pernah denger gak masalah ceweknya? Masa dia belum punya pacar sih? Kan aneh. Padahal banyak cewek yang di sekolah ini yang suka sama dia tuh.” Aku mulai tertarik dengan Raka yang misterius itu.
“Iya yah. Apa jangan-jangan...” Pikiran negatif Shella udah mulai deh.
“Eh, jangan negatif thinking dulu.”
“Abis dia kan duduk di belakang gue terus dia juga gak pernah cerita-cerita tentang cewek tuh.”
***
Pagi ini aku pergi di antar oleh ayahku, ayahku memang rutin mengantarku tiap pagi katanya dia gak mau kalau aku pergi sendiri takut nanti ada apa-apa. Kebetulan pagi ini aku ketemu Raka jadi kami berdua masuk ke kelas berdua.
“Tadi di anter siapa La?” Tanya Raka.
“Oh, itu ayahku.”
“Enak yah lo, ayah lo pasti sayang banget sama lo.”
“Iyalah ayahku memang sayang banget sama gue.” Melihat raut muka Raka yang gak seperti biasanya aku jadi mengurungkan niatku untuk mengajaknya bercanda. “Lo gak di anter sama orang tua lo?”
“Jangankan di anter, mereka aja gak perduli sama gue. Mereka aja jarang pulang ke rumah kalau pulang juga pasti cuma ngambil berkas-berkas kantor yang ada di rumah.” Raka mulai kelihatan sedih.
“Sorry yah gue gak tau.”
“Gak apa-apa kok, udah yuk ke kelas aja.” Aku bener-bener gak tau kalau keluarga Raka itu seperti itu jadi selama ini hati Raka gak sama seperti Raka yang sering aku lihat. Raka yangku kenal bukan Raka yang sesungguhnya.
Di kelas aku menulis sebuah kata-kata lagi di dalam bukuyang sering aku tulis.
Burung-burung itu tidak terbang bebas di sana, mereka berusaha untuk mempertahankan hidup mereka masing-masing.
“La, lo taukan kalau Raka itu gak punya temen deket?” Shella dan Lia yang datang menghampiriku membuat aku menghentikan tulisanku.
“Iya, gue tau emang kenapa?”
“Tadi aku nanya-nanya sama Janni temen SMP-nya Raka dulu katanya sih dulu Raka punya sahabat terus sahabatnya itu ngehianatin dia jadi mungkin dia gak mau punya sahabat lagi kali gara-gara dia gak mau di khianati lagi.” Kata Shella.
“Ya, ampun kesian banget sih dia.” Aku baru tau di balik Raka yang ceria ternyata banyak masalah yang menimpanya.
Istirahat ini aku ingin ke perpustakaan buat nyari buku aja tapi di sana sudah ada Raka, aku mencoba untuk mendekatinya.
“Hei, lagi baca apa?” Tanyaku sekedar basa-basi aja.
“Lagi baca novel aja nih.”
“Owh.”
“Kebetulan lo ada di sini gue pengen ngasih pengakuan sama lo.”
“Pengakuan apa?” Aku penasaran apa yang akan di bicarain Raka.
“Sebenernya gue suka sama lo La, tapi gue gak mau ngenal kata-kata cinta atau pacaran karena gue masih trauma sama kejadian satu tahun lalu.”
“Hmm, kalau boleh tau ada kejadian apa satu tahun lalu?”
“Dulu aku pernah punya pacar namanya Zania Arilla Putri tapi sekarag dia udah ninggalin gue.” Kata Raka.
“Kok bisa?” aku heran dengan cerita Raka itu.
“Satu tahun lalu dia ngalamin kecelakaan dan kecelakaan itu membuat dia ninggalin gue buat selama-lamanya.” Raka sedang menangis meskipun air matanya gak jatuh ke pipinya.
“Udah dong jangan sedih lagi. Dia juga pasti udah bahagia di sana.” Aku hanya ingin menghibur Raka.
“Iya dia juga pasti gak pengen gue sedih kaya gini.” Raka mulai mencoba untuk tersenyum kembali.
“Ya, udah lo kan masih trauma lagian gue juga belum mau pacaran masih pengen menimati hidup sendiri jadi kita sahabatan aja yah.”
“Serius lo mau jadi sahabat gue?”
“Iya.” Aku memberikan senyuman ketulusan kepada Raka.
“Thanks yah.”
Burung-burung itu memiliki rahasia tersendiri, mereka terbang bebas itu bukan tak ada beban. Mereka terbang di langit sana itu adalah perjuangan untuk tetap dapat hidup.

END

Crieted by Della Audita

Cerpen - Sepucuk Surat

Besok aku aniv with pacarku tecinta Galih yang ke-12th, aku nggak bisa
ngasih apa-apa sama dia. Aku cuma bisa ngasih surat buat dia yang sudah 4
kaliku ulang karena kena darahku tapi aku tetap berusaha buat ngasih
yang terbaik buat mypacar hehe.

Sudah 2 tahun ini aku seperti ini selalu mengeluarkan darah dari
hidungku, aku sudah berusaha untuk nggak mengeluh dan tetap semangat
untuk sembuh tapi sialnya stadiumnya malah naik 1 tingkat.
Aku nggak kepengen liat ibu nangis kayak waktu penyakit ini
kumat-kumatan, semangat dong semangat. Ibu aku nggak akan penah buat ibu
nangis lagi yah.Tenang aja buk, janji Dwik mah selalu bisa di pegang.
Hmm, aku jadi kangen ayah. Ayah apa kabar yah di sana? Ayah kedinginan
nggak di sana? Andaikan aku bisa memeluk ayah lagi kayak dulu.

Suratku udah selesai nih buat mybebeb tercinta hehe meskipun udah
berulang kali ngulang akhirnya jadi juga besok tinggal di kasih sama
mybebeb.

“Wik, bantu ibuk yuk wik?” Suara ibu memanggilku dari luar.

Pasti ibu butuh bantuan. Pikirku, aku segera mengambil tissue dan
membersihkan darah yang masih ada di hidungku dan segera berlari pergi
dari meja belajar yang kutinggalkan surat yang bertuliskan For My live
Gilang :* “Iya buk, kenapa?”

“Ini bantuin ibuk jemur pakaian yah? Ibuk mau masak dulu yah cantik.”
Kata ibuku.

“Iya bu, pokoknya beres deh kalau sama Dwik mah”

Ibuku segera masuk ke dalam rumah dan aku mulai menjemur pakaian-pakaian
itu. Kok kepalaku pusing yah? Hah? Darah lagi?Nggak bosen-bosennya yah
gangguin aku dan kehidupanaku? Aku nggak boleh nyerah sama kamu, kamu
itu cuma mau ngancurin aku aja. Aku mengelap hidungku dan meneruskan
lagi tugasku.

“Dwik…” Mala yang kebetulan lewat dan menyapaku membuatku terkejut.

“Ya?”

“Wik, ntar sore jadikan ikut pengajian di Musholah belakang?” Walaupun
masihumur 18 tahunan yang kata orang biasanya suka ke Mall ngabisin uang
orang tua aja tapi bagi aku dari pada kayak gitu nggak jelas banget
mending ngabisin waktu dengan ikut pengajian gitu.

“Oh iyaiya, jadi kok.” Aku hamper lupa kalau hari ini ada pengajian
maklum gara-gara penyakit sialan ini.

“Yaudah, ntar aku jemput kayak biasa yah wik?” aku hanya tersenyum tanda
bahwa aku menyetuji ajakannya “aku pulang duluan yah Wik,
Asslamualaikum”

“Wa’alaikumsalam”

***

Sore ini aku bersiap-siap untuk mengikuti pengajian, aku memakai baju
muslim dan jilbab persegi yang tak lupa kuhiasi dengan bross kecil yang
lucu di sudut kiri jilbabku. Melihat diriku di kaca seakan-akan sebentar
lagi aku akan meninggalkan dunia ini. Haduh, mikirin apalagi sih aku
ini.

“Buk…” aku mencari ibuku untuk berpamitan “buk, Dwik mau ke
musholah mau ikut pengajian, ibu di rumah sendirian nggak apa-apakan?”

“Iya, nggak apa-apa”

“Ibuk, jangan sedih dan nagis lagi yah?” spontan aku ngomong begitu
dengan ibuku “Dwik, nggak apa-apa kok buk” aku cuma memberikan senyuman
termanis yang belum pernahku berikan kepada orang lain “ibuk, harus
janji sama Dwik kalau ibuk nggak akan sedih lagi, nggak akan nangis
lagi”

Ibuku hanya tersenyum menahan air matanya “iyaWik, ibu janji sama Dwik
ibuk nggak akan nangis lagi, ibuk nggak akan sedih lagi yaudah itu si
Mala udah nunggu di depan.”

“Iya buk, Dwik pergi dulu yah” aku mencium tangan ibuku lalu pergike
Musholah dengan perasaan tak enak.

***

Adzan Magrib berkumdang waktunya seluruh umat Islam melaksanakan sholat
Magrib begitupun denganku dan yang lain, pada rakaat terakhir aku berdoa
dan seketika itu kepalaku mulai terasa pusing lagi.

Ya Allah jaga ibuku jika aku pergi, jangan biarkan dia mengeluarkan air
mata lagi gara-gara aku, aku nggak mau liat ibu sedih. Ya Allah jaga
Gilang, jangan sampai dia sakit karena aku pergi meninggalkannya, aku
nggak mau kalau itu terjadi, aku nggak tega liat ibu dan Gilang sedih,
Tolong sembuhkan aku tapi jika engkau memang mengkehendaki aku pergi
dari sisi mereka aku ikhlas tapi aku nggak yakin mereka bisa ikhlas
kehilangan aku.

Kepalaku terasa pusing, aku tak bisa membangunkan tubuhku rasanya berat
sekali sangat berat, aku tak sanggup lagi. Gelap, semuanya terasa gelap
bagiku.

***

“Wik, bangun Wik. Dwik nggak boleh tinggalin ibuk” ibu Dwik menangis
melihat anaknya yang sudah terbujur kaku di atas kasur karena kangker
otak yang sudah semakin ganas di dalam tubuh Dwik tapi Dwik tetap
berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya itu.

“Wik, hari ini kita aniv yang ke-1 tahunWik tapi kenapa kamu ninggalin
aku Wik?” Gilang yang belum percaya dengan keadaan sekarang terus
menerus memanggil Dwik.

Ibu Dwik bangkit dan berjalan menuju kekamar Dwik sedangkan Gilang masih
tetap memegang tangan Dwik yang sudah kaku.

“Gilang” ibu Dwik muncul dengan sepucuk surat, yah surat, surat yang
akan menjadi kado untuk aniv Gilang dan Dwik yang ke-12th “Gilang,
mungkin cuma ini yang bisa di berikan Dwik sama kamu”

Gilang mengambil surat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan mulai
membaca surat itu. Air mata seorang cowok yang benar-benar tulus
mencintai seorang wanita itu mengalir ketika membaca surat itu.

Hai Gilang, mungkin ini kado terakhir yang bisa aku kasih ke kamu yah
sayang :* ini bener-bener kado yang special bagiku, tau nggak sih, aku
udah hampir 5 kali ngulang buat surat ini karena kena darahku hehe =D
maaf yah sayang kalau aku udah bohong sama kamu :) aku nggak mau liat
kamu sedih, kamu harus janji sama aku kalau aku udah pergi nanti kamu
nggak akan nangis dan aku nggak mau liat kamu sedih. Oh, iya Happy
Anniversary dear, you are the last person that I love and you are the
one that can make me the spirit than mother :)

Dwi Laraswati


END

Crieted by Della Audita 

Cerpen - Cintaku Tulus Sampai Akhir Hayatnya

“NAYAAAAAA, GUE SUKA SAMA LO, GUE SAYANG SAMA LO. LO MAU NGGAK JADI
PACAR GUE?” Jerit Fahri di tengah lapangan sekolah demi memenuhi
persyaratan dari Naya yang benar-benar mustahil bagi seorang cowok umur
16 tahunan yang tingkat ke gengsiannya udah tinggi banget buat ngelakuin
itu di depan orang banyak.

“Apa? Gue nggak denger tuh?” Pinta Naya lagi dengan nada mengejek.

“NAYA, GUE SUKA SAMA LO. LO MAU KAN JADI PACAR GUE?” Fahri mengulang
kata-katanya lagi dengan kuat dan jelas “Nay, gue udah ngelakuin apa
yang lo suruh jadi lo mau kan terima gue?”

“Hah? Nerima lo?”Fahri hanya mengangguk dan melihat Naya dengan tatapan
memohon.

“Maaf yah gue kan tadi bilang ‘kalau lo bener-bener sayang sama gue lo
harus berani ngungkapinnya di depan semua orang’ dan itu artinya belum
tentu gue MAU NERIMA LO” Naya mengungkapkannya dengan tegas kalau di
tulis sih bisa di garis bawahin tuh kata-kata Naya.

Fahri seorang cowok kelas X SMA yang meskipun masih kelas X dia sudah di
kenal sama semua orang di sekolahannya dari kakak kelas sampe guru-guru
dia di kenal bukan cuma gara-gara dia anak guru aja tapi dia itu bisa
di bilang perfect lah udah ganteng, ketua osis, rajin ibadah, pinter
dalam pelajaran apalagi ngajinya beeh udah deh topmarkotop lah.

***

Sudah di permaluin di depan banyak orang bukannya stop nggak akan
nekat-nekat lagi ngedeketin cewek yang udah jelas-jelas cuma mau mainin
dia doang tapi Fahri malah nekat tetap ngelanjutin perjuangannya demi
ngedapetin Naya nggak taulah apa yang ada di pikiran Fahri sampe dia
rela di gituin sama Naya.

Belum cukup Fahri ngejar-ngejar Naya, maka belum berakhir juga permainan
Naya. Kali ini sama aja dengan sebelumnya target Naya adalah
mempermalukan Fahri di hadapan seluruh anak sekolahan.

“Fahri, kan katanya kamu sayang sama aku jadi kamu mau kan lakuin satu
hal buat aku?” kata Naya dengan muka memelas penuh permohonan karena ia
tau kalau Fahri akan memenuhi permohonannya.

“Iya, kamu mau aku lakuin apa?”

“Kamu harus keliling lapangan sambil pakai papan nama bertuliskan FAHRI
SAYANG NAYA terus kamu sambil lari sambil bilang FAHRI SAYANG NAYA kamu
mau kan?”

“Oke deh, demi Naya akan aku lakuin semua itu.”Pas istirahat Fahri
benar-benar melukukan hal gila itu dan di tonton oleh seluruh anak-anak
satu sekolahan alhasil yah sama seperti perjuangannya yang pertama tadi
Nol Besar Fahri cuma menjadi boneka mainan Naya aja utuk dia
bersenang-senang.

***

Radit dan teman-teman Fahri alias sahabat Fahri nggak suka dengan
perlakuan Naya ke Fahri yang udah kelewat batas.

“Heh, kenapa sih lo itu cuma permainin temen gue aja? Apa sih salah
Fahri? Dia itu udah berkorban demi ngedapetin lo tapi apa? Lo nggak ada
sedikitpun rasa kemanusiaan tau?” Habis-habisan Radit dan yang lain
memaki-maki Naya tapi bukannya Fahri berterima kasih melainkan Fahri
memarahi teman-temannya karena telah memaki Naya.

“Woy, gue sayang tulus sama Naya, Naya nggak salah apa tapi kenapa lo lo
pada nge-Bully Naya HAH?” seluruh anak yang ada di kantin cuma
memandangi mereka bertengkar.

“Eh, Fahri lo tu nyadar nggak sih? Lo tu cuma di mainin aja sama cewek
kayak dia nih” Suasana makin panas.

“Alah, udah la Fahri nggak usah sok jadi pahlawan di depan gue. Lo itu
pasti yang nyuruh mereka buat maki-maki gue kan? Iya kan? Dan nyuruh
mereka buat malu gue aja kan?” Naya yang dari tadi kesal dengan
perbuatan Radit malah sekarang menyalahkan Fahri.

“Nggak kok Nay nggak gitu” Fahri mencoba menjelaskan bahwa semua itu
nggak benar.

“Udah deh, lo itu mau bales dendam kan ke gue gara-gara gue selalu nolak
lo?” BYUURRR “Rasain tuh” Naya pergi meninggalkan Fahri yang tengah
basah kuyup.

“Liat tuh kelakuan cewek yang lu puja-puja, gue minta sama lo, lo nggak
usah ngejer-ngejer dia lagi, dia tuh nggak guna buat lo” Radit dan
teman-teman Fahri yang lain membantu mengeringkan baju Fahri yang di
siram Naya tadi.

“Nggak, lo lo pada tuh nggak ngerti gimana perasaan gue kalau gue
kehilangan Naya” Fahri menyingkirkan tangan temannya dari tubuhnya.

***

Beberapa minggu setelah kejadian itu terdengar kabar bahwa Naya sudah
berbadan dua alias hamil dia mengaku kalau yang menghamilinya itu Fahri
sampai akhirnya ibu Naya menghubungi orang tua Fahri untuk meminta
pertanggung jawaban dari Fahri. Fahri mengiyakan kalau benar dia yang
melakukan itu tapi orang tua Fahri nggak percaya dengan itu karena
mereka tau Fahri nggak akan berbuat seperti itu.

“Naya, kamu jujur sama ibu itu sebenarnya anak siapa?” Desak ibu Naya.

“Hmm, sebenarnya ini bukan anak Fahri bu” Jawab Naya dengan ragu.

“Jadi itu anak siapa?” Ibu Naya sudah mulai emosi dengan kelakuan
anaknya.

“Ini.. Ini anak Anto bu”

Anto pacar Naya yang telah membuat Naya seperti ini tapi dia nggak mau
mengakuinnya dia bilang kalau bukan cuma dia aja yang sudah meniduri
Naya. Akhirnya Naya di nikahkan dengan orang lain. Fahri benar-benar
terpukul mendengar hal itu, meskupun sekarang Naya sudah menjadi istri
orang tapi Fahri tetap mengaharapkan Naya.

Tugas ayah Fahri yang mengharuskan Fahri ikut ke Medan meninggalkan
semua kenangan yang ada di Makasar saat ini sebelm dia pergi, dia sudah
memiliki janji dengan Naya untuk saling menjadi yang terbaik satu sama
lain sampai akhirnya Naya meninggal karena melahirkan anaknya yang di
beri nama Muhammad Fahri Pratama dan satu pesan terakhir Naya “Hidup
Untukmu, Mati Tanpamu Fahri


Crieted by Della Audita

Cerpen - Seandainya Kau Tau

Siapa Naya? Seluruh anak satu sekolah tau kalau Naya adalah seorang gadis yang jahat karena dia selaludan selalu menyakiti Fahri, selalu membuat persyaratan-persyaratan yang gakmasuk di akal meskipun hal itu di lakukan oleh Fahri tetap saja Naya mengatakankalau dia tidak menyukai Fahri dan menolak Fahri mentah-mentah.

Di dalam diary yang ditulis Naya, di sana Naya tidak sejahat dan seburuk apa yang orang-orang bilang.Di balik sifatnya jahat Naya, ternyata Naya memiliki alasan kenapa diamelakukan semua hal itu. Bukan karena dirinya sendiri tapi melainkan untuk FRP.Dari awal mereka MOS Naya sudah menyukai FRP, Naya berandai-andai, seandainyadia bisa jadian dengan FRP tapi Naya juga berfikir tidak mungkin dia pantasmendapatkan seorang anak guru, kaya, alim seperti FRP. Naya sadar dia itusiapa, dia bukan siapa-siapa dia cuma anak orang biasa yang gak mungkin dansangat mustahil bisa jadian dengan FRP.

Seiringnya waktu FRPmenyukai Naya dan selalu mengejar-ngejar Naya, Naya gak pengen FRP melakukansemua itu demi Naya. Naya memberi persyaratan-persyaratan yang gak masuk diakal dan Naya berharap FRP akan membencinya kalau dia memberikan syarat-syaratitu. Tapi nyatanya? FRP mau menuruti semua permintaan Naya, bukanya bencikepada Naya tapi FRP makin jadi. Hal itu membuat hati Naya sakit dan sangatbersalah, dia merasa seperti orang yang sangat jahat karena sudah menyakitiperasaan FRP. Dia ingin FRP itu pergi melupakan dia.

Setiap pagi FRP selalumenunggu Naya di depan gerbang demi mendapatkan senyum Naya, Naya terkadangmemberikan senyumannya kepada FRP kalau suasana sedang sepi. Pagi ini Nayamengajak FRP ngobrol berdua.

“Kamu kenapa bisa sukasama aku?” Tanya Naya

“Aku gak tau kenapa akubisa suka sama kamu”

“Aku itu orang jahat,kamu gak pantes buat suka sama aku mending mulai sekarang kamu lupain aku”

***

Saat itu keluarga Nayamembutuhkan uang untuk kehidupan mereka, dan demi mendapatkan uang Nayamelakukan sampai akhirnya dia hamil dengan orang yang sudah mempunyai istri.
Beberapa bulan setelahkejadian itu, sekolah menjadi heboh karena Naya. Dan saat itu mewa mengajak FRPuntuk berbicara di belakang kelas berdua.

“Mulai sekarang kamuharus lupain aku, kalau aku masuk kedalam kehidupan kamu, aku cuma akan menjadiaib di keluarga kamu aku ini hamil aku gak pantes buat kamu. Seragam ini,pendidikan ini seharusnya gak pantes buat aku untuk apa aku sekolah? Kalauprilaku aku aja gak bermoral kayak gini”

“Kamu tenang ya, akujanji sama kamu kalau aku akan tanggung jawab dengan semua ini. Aku bakalannikahin kamu”

***

Setelah tau kabar kalauFRP ynag telah menghamili Naya orang tua Naya datang ke rumah FRP untuk memintapertanggung jawaban dari FRP. Orang tua Naya disana marah-marang dan bilang“Percuma kalian itu guru kalau kalian sendiri tidak bisa mendidik anak kalian.Satu aja gak bener apa lagi kalau banyak”

“Iya buk, kami mintamaaf kalau memang benar anak kami yang melakukan hal itu. Anak saya akanbertanggung jawab dan itu artinya kami telah gagal mendidik anak kami” Ibu FRPtidak percaya kalau anaknya melakukan perbuatan seperti itu.

Disana, diruangan ituNaya hanya diam dan menangis, FRP menggenggam tangan Naya erat-erat. Setah didesakorang tuanya, akhirnya Naya mengakui bahwa itu bukan anak FRP. Orang tua Nayaterdiam ketika mendapatkan pengakuan dari anaknya.

***

Beberapa bulan kehamilan Naya, ternyata FRP akan pergi ke Medan. Naya di undang ke acara perpisahan mereka, buka cuma Naya tetapi banyak teman-teman FRP juga yang datang. FRP mengajak Naya ngobrol di dalam berdua disana mereka saling berjanji gak akan pernah saling ngelupain, di dalam hati Naya berkata “Kenapa disaat aku sedang begini dan cuma ada satu orang yang bisa mengerti aku? Kenapa dia harus pergi meninggalkan aku?” Percakapan mereka berdua Naya rekam dalam sebuah rekaman.Pada saat Naya sedang sendirian dan kesepian Naya selalu mendengarkan rekamanitu.

Meskipun Naya selalu jutek tapi Naya selalu memperhatikan FRP dari kejauhan, Naya senang kalau bisa ngeliat FRP itu senyum dan ketawa bareng temen-temennya. Walaupun Naya gak bisabuat salah satu dari senyum dan ketawanya itu berasal dari dia sendiri.

Naya berharap kalau padasaat malam sweetseventeen FRP nanti cewek yang petama kali ngucapin itu adalah Naya, dan dia ingin mengungkapkan perasaan nya kalau dia juga sayang sama FRP. Selama ini Naya gak bisa mengungkapkannya karena keadaan yang gak bisa buat diangungkapin semuanya.

Naya menulis semuanyadalam buat diary nya, katanya kalau saat malam sweetseventeen FRP nanti diaudah gak ada dia berharap kalau buku diary itu bisa di baca oleh FRP pada saathari ulang tahunya nanti dan FRP harus tau kalau Naya sayang sama FRP dari awalketemu.

Anak yang di lahirinNaya di kasih nama M Ricko Pratama karena Naya pengen anak itu nanti jadi kayak FRP, sopan, bisa ngehargai cewek kayak dia ngehargai ibunya sendiri. Dari awalisi diarynya Naya FRP itu gak pernah di sebutin siapa tapi diakhir cerita FRPitu adalah Fahri Ricko Pratama.

Walaupun Naya gak bisa berjodoh dengan FRP di dunia tapi insyaallah kalian akan di pertemukan di akhirat.

END

Crieted by Della Audita

Cerpen - Hati yang Terpendam

Putus?? Yah, itu kata-kata yangpernah di ucapkanya 1 tahun yang lalu. Mungkin aku terlalu beruntung masih bisabersamanya walaupun tidak akan pernah memiliki hatinya lagi.
Mungkin aku salah telah pernah jatuh cinta kepadanya, dia terlalu banyakmenyakitiku tapi ntah kenapa aku tidak pernah bisa menghilangkan rasa itu.
“Lak” . . .
“Yah?” suara panggilan itumembuyarkan lamunan Illa.
“Lo, kenapa sih? Dari tadi guepanggil gak noleh-noleh” Raya yang dari tadi sibuk memanggil Illa, kini dudukdi sebelah Illa.
“Hah? Kapan lo manggil gue?” tanyaIlla heran.
“Dari ujung sono gue manggilin lotapi kagak noleh juga” sambil menunjuk ke arah kantin sekolahan, “lo kenapasih? Galau?”
“Galau? No no no, gak ada istilahgalau di kamus hidup gue” dengan pede nya Illa mengucapkan kata-kata itu tapisemua kata-kata yang selalu muncul dari mulut Illa tak pernah sama dengan apayang di rasakan nya.
Tuhan,kapan semua ini berakhir? Kapan rasa ini akan pergi tuhan?
“Sok banget sih, lo itu emang gakpernah galau dan lo itu juga gak pernah moveon” dengan santainya Raya menyeruput minuman yang di bawanya tadi.
“Nah, itu lo tau. Dari pada longepoin gue aja mending masuk udah bel noh” sambil pergi meninggalkan Raya.
“Dih, songong nih anak”

***

Nyet, andaikan lo tau perasaan gue.
Seandainya lo masih sama-sama gue.
Seandainya lo yang jadi pangerangue.
Seandainya lo yang akan selalu adabuat gue.
Tapi semua itu hanya khayalan.
Nyet, gue emang gak bisa ngomongterang-terangan.
Tapi kalau gue di kasih kesempatanbuat ngungkapin perasaan gue.
Gue cuma pengen lo tau kalau adaorang lain selain DIA yang sayang sama lo.

“Udah ah, capek gue nulis mulu”sambil pergi meninggalkan kata-kata yang telah di tulisnya di atas meja. Illacuma bisa memendam dan menulis semua apa yang ia rasakan tanpa ada orang lainyang tau tentang perasaannya.

***

“Lak, gue mesti pergi” kata Gilang,orang yang selama ini selalu menghantui pikirannya.
“Emang mau pergi kemana?”
“Gue mesti kuliah ke luar negri danpasti nya kita gak akan bisa main sama-sama lagi, lak”
“Kapan berangkat nya?” tanya Illasambil menguatkan hatinya.
“Hari kamis nanti dan kayak nya kitagak bisa berhubungan lagi selama gue kuliah” katanya dengan datar.
Illa cuma bisa diam.
Nyet,gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Kata Illa dalam hati.
“Lo suka ya sama gue Lak?” tanyaGilang.
“Gak, ngapain gue suka sama lo kayakgak ada orang lain lagi aja” jawab Illa spontan.
“Dari cara lo aja udah keliatan kalolo itu suka sama gue. Jangan pernah bohongin perasaan lo sendiri Lak. Lo sukakan sama gue?” tegas Gilang.
“Oke Lak, kalo lo gak mau ngomongtapi jangan pernah menyesal atas apa yang udah lo pilih.”
Gue gak kayak cewek-cewek yangselalu ngejer-ngejer lo, yang selalu bisa bilang suka sama lo. Gue gak pengen lotau kalo gue suka sama lo, yang gue pengen cuma tau tentang isi hati lo.

***

Lo inget saat lo nembak dia? Disitugue pura-pura tegar, disitu gue berharap itu cuma mimpi. Mungkin gue ituterlalu bodoh untuk mengharapkan lo lagi, gue itu udah terlalu bodohmenghabiskan banyak air mata gue buat lo. Tanpa lo tau, gue selalu nangis kalogue inget betapa bodohnya gue tapi hal itu gak pernah bisa buat gue move on dari lo malah semakin harisemakin gue ulangi dan ulangi lagi kebodohan yang pernah gue perbuat.

***

Malam ini yang bisa di lakukan Illacuma berbaring di atas kasur dan nangis lagi dan lagi. Gilang udah pergi, diaudah pergi tanpa ngabarin Illa lagi. Tangisan Illa semakin jadi, semakin malammatanya semakin sembab, Illa memang terlalu bodoh buat nangisin orang yang gakpernah nganggep perasaannya.

Ddrrr…drrrr…dddrr….
HP Illa bergetar, ada yang menelpon.

“Ya, hallo?” kata Illa sambilmencoba menahan tangisannya.
“Hai, mbing” suara yang tak asinglagi baginya.
“Monyet? Katanya lo udah berangkat?”sambil menhapus air matanya.
“Belum, di undur jadi besok berangkatnya”
Sebelum Gilang pergi, Illamemberanikan diri buat ngomong tentang perasaannya.
“Nyet, gue suka sama lo. Gue tau iniseharus nya gak boleh terjadi, jujur dari awal kita pisah rasa itu belum bisailang sampe sekarang.”
“Gue akan hargain rasa lo buat gue,karena itu manusiawi dan hak lo buat suka sama siapa pun dan gue gak akanbilang kalau gue suka atau gak sama lo. Tapi gue percaya sama jalan Allah.Kalau memang lo yang terbaik buat gue maka Allah akan kasih jalan buat kitabisa bersatu, inget mbing orang yang gue sayang saat ini belum tentu jadipendamping gue di masa depan. Jadi semua terserah Allah, yaudah lah besok guemau berangkat jadi mesti prepare barang-barang buat besok.”
“Lo gak akan lupa kan sama gue?”tanya Illa.
“Iya gue gak akan pernah lupa samalo”
“Janji?”
“Janji”


SELAMATTINGGAL KENANGAN INDAH, SAMPAI BERTEMU LAGI

END

Crieted by Della Audita

Senin, 29 September 2014

Fungsi Vs Prosedur

Definisi : 

- Fungsi adalah suatu bagian dari program yang dimaksudkan untuk mengerjakan suatu tugas tertentu dan letaknya dipisahkan dari bagian program yang dijalankan.
- Prosedur adalah suatu bagian yang digunakan untuk mengenali subprogram di dalam suatu program.

Perbedaan Fungsi dan Prosedur :

- Fungsi dapat mengembalikan suatu nilai yang dapat digunakan dalam ekspresi.
- Fungsi digunakan untuk membuat operasi-operasi yang tidak ada dalam fungsi utama. 
- Fungsi berisikan proses tertentu yang akan mengembalikan nilai ke modul utama.
Sedangkan,
- Prosedur tidak memiliki nilai yang berhubungan dengan namanya.
- Prosedur digunakan untuk menstrukturkan suatu program dan untuk memperbaiki kejelasan dan keumumannya.
- Prosedur berisikan proses tertentu yang tidak akan mengembalikan nilai ke modul utama.

Keuntungan Pembuatan Fungsi dan Prosedur :

- Menghindari penulisan kode program yang sama berulang kali.
- Kemudahan menulis dan menemukan kesalahan (debug) program.