Hari ini hari senin, seperti
biasa seluruh siswa-siswi di manapun pasti mengadakan upacara pagi untuk
menghormati jasa-jasa pahlawan yang sudah rela berkorban demi negara
Indonesia tercinta ini begitupun sekolahku SMA Muhammadiyah 1 Palembang
lebih tepatnya.
“La, lo gak apa-apakan?” tanya Shella sahabatku yang sejak tadi melihatku tak bersemangat.
Aku menggelengkan kepalaku “Gue gak apa-apa kok.” Aku memberikan senyuman kepada Shella agar dia percaya.
“Burung-burung itu terbang dengan bebas di langit sesuka mereka. Aku ingin menjadi burung-burung itu yang bebas dan terlihat seperti tak ada sedikitpun masalah dan kesedihan yang menerpanya.” Kataku dalam hati sambil melihat burung-burung yang terbang bebas di langit itu.
“Eh Filla, kenapa sih lo ngelamun gitu? Kesambet yah loh?” Tanya Lia teman sebangkuku di kelas.
“Lo mah ngagetin aja. Enak aja kesambet.” Aku terkaget karena Lia dari tadi menyenggol-nyenggolku dan itu membuat lamunanku buyar.
“Abis dari tadi lo ngelamun aja. Udah hampir selesai upacaranya, habis upacara temenin gue ke kantin yah?” Lia sambil senyum-senyum, itu tandanya dia lagi memohon kepadaku.
“Yeh, lo mah ke kantin mulu, gak ada tempat lain apa selain kantin? Perpus gitu.” Cetus Shella tiba-tiba yang dari tadi baris di belakangku.
Upacara sudah selesai bel sudah berbunyi sekarang waktunya seluruh murid untuk memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku, Shella, dan Lia, di kelas aku mengeluarkan buku yang sering aku tulis dan aku mulai menulis di buku itu.
Aku ingin seperti burung-burung yang bisa terbang bebas di langit tanpa ada masalah maupun kesedihan.
“Liat dong.” Raka mengambil buku yang sedang aku tulis sambil menyuruhku untuk beranjak pindah dari tempat yang aku duduki sekarang.
“Kalau mau liat yah liat aja gak pakek geser-geser kali.” Aku mulai beranjak dari kursi itu dan pindah ke sebelahnya.
“Hehe. Burung-burung itu gak bebas terbang di langit sana. Mereka terbang untuk berusaha mencari makan, mereka juga harus berhati-hati agar gak di serang oleh musuhnya. Hidup mereka tuh terancam, jika mereka gak bisa menjaga dirinya sendiri maka mereka akan mati.” Setelah Raka berbicara begitu dia langsung pergi begitu saja dan menaruh bukuku di atas meja. Aku hanya melihatnya berjalan keluar kelas.
Pulang sekolah ini aku ingin pergi ke perpustakaan bersama Shella untuk mencari tugas sekalian mau nyari novel buat baca-baca di rumah.
“Shel, menurut lo si Raka tuh orangnya aneh gak?” Tanyaku kepada Shella karena aku masih penasaran dengan Raka meskipun aku sudah hampir setahun sekelas dengannya tetapi aku seakan-akan tak pernah kenal dengannya.
“Aneh gimana? Perasaan dia tuh lucu, ganteng, imut, pinter, jago main basket pula.” Jawab Shella.
“Nah, itu dia. Lo pernah denger gak masalah ceweknya? Masa dia belum punya pacar sih? Kan aneh. Padahal banyak cewek yang di sekolah ini yang suka sama dia tuh.” Aku mulai tertarik dengan Raka yang misterius itu.
“Iya yah. Apa jangan-jangan...” Pikiran negatif Shella udah mulai deh.
“Eh, jangan negatif thinking dulu.”
“Abis dia kan duduk di belakang gue terus dia juga gak pernah cerita-cerita tentang cewek tuh.”
***
Pagi ini aku pergi di antar oleh ayahku, ayahku memang rutin mengantarku tiap pagi katanya dia gak mau kalau aku pergi sendiri takut nanti ada apa-apa. Kebetulan pagi ini aku ketemu Raka jadi kami berdua masuk ke kelas berdua.
“Tadi di anter siapa La?” Tanya Raka.
“Oh, itu ayahku.”
“Enak yah lo, ayah lo pasti sayang banget sama lo.”
“Iyalah ayahku memang sayang banget sama gue.” Melihat raut muka Raka yang gak seperti biasanya aku jadi mengurungkan niatku untuk mengajaknya bercanda. “Lo gak di anter sama orang tua lo?”
“Jangankan di anter, mereka aja gak perduli sama gue. Mereka aja jarang pulang ke rumah kalau pulang juga pasti cuma ngambil berkas-berkas kantor yang ada di rumah.” Raka mulai kelihatan sedih.
“Sorry yah gue gak tau.”
“Gak apa-apa kok, udah yuk ke kelas aja.” Aku bener-bener gak tau kalau keluarga Raka itu seperti itu jadi selama ini hati Raka gak sama seperti Raka yang sering aku lihat. Raka yangku kenal bukan Raka yang sesungguhnya.
Di kelas aku menulis sebuah kata-kata lagi di dalam bukuyang sering aku tulis.
Burung-burung itu tidak terbang bebas di sana, mereka berusaha untuk mempertahankan hidup mereka masing-masing.
“La, lo taukan kalau Raka itu gak punya temen deket?” Shella dan Lia yang datang menghampiriku membuat aku menghentikan tulisanku.
“Iya, gue tau emang kenapa?”
“Tadi aku nanya-nanya sama Janni temen SMP-nya Raka dulu katanya sih dulu Raka punya sahabat terus sahabatnya itu ngehianatin dia jadi mungkin dia gak mau punya sahabat lagi kali gara-gara dia gak mau di khianati lagi.” Kata Shella.
“Ya, ampun kesian banget sih dia.” Aku baru tau di balik Raka yang ceria ternyata banyak masalah yang menimpanya.
Istirahat ini aku ingin ke perpustakaan buat nyari buku aja tapi di sana sudah ada Raka, aku mencoba untuk mendekatinya.
“Hei, lagi baca apa?” Tanyaku sekedar basa-basi aja.
“Lagi baca novel aja nih.”
“Owh.”
“Kebetulan lo ada di sini gue pengen ngasih pengakuan sama lo.”
“Pengakuan apa?” Aku penasaran apa yang akan di bicarain Raka.
“Sebenernya gue suka sama lo La, tapi gue gak mau ngenal kata-kata cinta atau pacaran karena gue masih trauma sama kejadian satu tahun lalu.”
“Hmm, kalau boleh tau ada kejadian apa satu tahun lalu?”
“Dulu aku pernah punya pacar namanya Zania Arilla Putri tapi sekarag dia udah ninggalin gue.” Kata Raka.
“Kok bisa?” aku heran dengan cerita Raka itu.
“Satu tahun lalu dia ngalamin kecelakaan dan kecelakaan itu membuat dia ninggalin gue buat selama-lamanya.” Raka sedang menangis meskipun air matanya gak jatuh ke pipinya.
“Udah dong jangan sedih lagi. Dia juga pasti udah bahagia di sana.” Aku hanya ingin menghibur Raka.
“Iya dia juga pasti gak pengen gue sedih kaya gini.” Raka mulai mencoba untuk tersenyum kembali.
“Ya, udah lo kan masih trauma lagian gue juga belum mau pacaran masih pengen menimati hidup sendiri jadi kita sahabatan aja yah.”
“Serius lo mau jadi sahabat gue?”
“Iya.” Aku memberikan senyuman ketulusan kepada Raka.
“Thanks yah.”
Burung-burung itu memiliki rahasia tersendiri, mereka terbang bebas itu bukan tak ada beban. Mereka terbang di langit sana itu adalah perjuangan untuk tetap dapat hidup.
END
Crieted by Della Audita
“La, lo gak apa-apakan?” tanya Shella sahabatku yang sejak tadi melihatku tak bersemangat.
Aku menggelengkan kepalaku “Gue gak apa-apa kok.” Aku memberikan senyuman kepada Shella agar dia percaya.
“Burung-burung itu terbang dengan bebas di langit sesuka mereka. Aku ingin menjadi burung-burung itu yang bebas dan terlihat seperti tak ada sedikitpun masalah dan kesedihan yang menerpanya.” Kataku dalam hati sambil melihat burung-burung yang terbang bebas di langit itu.
“Eh Filla, kenapa sih lo ngelamun gitu? Kesambet yah loh?” Tanya Lia teman sebangkuku di kelas.
“Lo mah ngagetin aja. Enak aja kesambet.” Aku terkaget karena Lia dari tadi menyenggol-nyenggolku dan itu membuat lamunanku buyar.
“Abis dari tadi lo ngelamun aja. Udah hampir selesai upacaranya, habis upacara temenin gue ke kantin yah?” Lia sambil senyum-senyum, itu tandanya dia lagi memohon kepadaku.
“Yeh, lo mah ke kantin mulu, gak ada tempat lain apa selain kantin? Perpus gitu.” Cetus Shella tiba-tiba yang dari tadi baris di belakangku.
Upacara sudah selesai bel sudah berbunyi sekarang waktunya seluruh murid untuk memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku, Shella, dan Lia, di kelas aku mengeluarkan buku yang sering aku tulis dan aku mulai menulis di buku itu.
Aku ingin seperti burung-burung yang bisa terbang bebas di langit tanpa ada masalah maupun kesedihan.
“Liat dong.” Raka mengambil buku yang sedang aku tulis sambil menyuruhku untuk beranjak pindah dari tempat yang aku duduki sekarang.
“Kalau mau liat yah liat aja gak pakek geser-geser kali.” Aku mulai beranjak dari kursi itu dan pindah ke sebelahnya.
“Hehe. Burung-burung itu gak bebas terbang di langit sana. Mereka terbang untuk berusaha mencari makan, mereka juga harus berhati-hati agar gak di serang oleh musuhnya. Hidup mereka tuh terancam, jika mereka gak bisa menjaga dirinya sendiri maka mereka akan mati.” Setelah Raka berbicara begitu dia langsung pergi begitu saja dan menaruh bukuku di atas meja. Aku hanya melihatnya berjalan keluar kelas.
Pulang sekolah ini aku ingin pergi ke perpustakaan bersama Shella untuk mencari tugas sekalian mau nyari novel buat baca-baca di rumah.
“Shel, menurut lo si Raka tuh orangnya aneh gak?” Tanyaku kepada Shella karena aku masih penasaran dengan Raka meskipun aku sudah hampir setahun sekelas dengannya tetapi aku seakan-akan tak pernah kenal dengannya.
“Aneh gimana? Perasaan dia tuh lucu, ganteng, imut, pinter, jago main basket pula.” Jawab Shella.
“Nah, itu dia. Lo pernah denger gak masalah ceweknya? Masa dia belum punya pacar sih? Kan aneh. Padahal banyak cewek yang di sekolah ini yang suka sama dia tuh.” Aku mulai tertarik dengan Raka yang misterius itu.
“Iya yah. Apa jangan-jangan...” Pikiran negatif Shella udah mulai deh.
“Eh, jangan negatif thinking dulu.”
“Abis dia kan duduk di belakang gue terus dia juga gak pernah cerita-cerita tentang cewek tuh.”
***
Pagi ini aku pergi di antar oleh ayahku, ayahku memang rutin mengantarku tiap pagi katanya dia gak mau kalau aku pergi sendiri takut nanti ada apa-apa. Kebetulan pagi ini aku ketemu Raka jadi kami berdua masuk ke kelas berdua.
“Tadi di anter siapa La?” Tanya Raka.
“Oh, itu ayahku.”
“Enak yah lo, ayah lo pasti sayang banget sama lo.”
“Iyalah ayahku memang sayang banget sama gue.” Melihat raut muka Raka yang gak seperti biasanya aku jadi mengurungkan niatku untuk mengajaknya bercanda. “Lo gak di anter sama orang tua lo?”
“Jangankan di anter, mereka aja gak perduli sama gue. Mereka aja jarang pulang ke rumah kalau pulang juga pasti cuma ngambil berkas-berkas kantor yang ada di rumah.” Raka mulai kelihatan sedih.
“Sorry yah gue gak tau.”
“Gak apa-apa kok, udah yuk ke kelas aja.” Aku bener-bener gak tau kalau keluarga Raka itu seperti itu jadi selama ini hati Raka gak sama seperti Raka yang sering aku lihat. Raka yangku kenal bukan Raka yang sesungguhnya.
Di kelas aku menulis sebuah kata-kata lagi di dalam bukuyang sering aku tulis.
Burung-burung itu tidak terbang bebas di sana, mereka berusaha untuk mempertahankan hidup mereka masing-masing.
“La, lo taukan kalau Raka itu gak punya temen deket?” Shella dan Lia yang datang menghampiriku membuat aku menghentikan tulisanku.
“Iya, gue tau emang kenapa?”
“Tadi aku nanya-nanya sama Janni temen SMP-nya Raka dulu katanya sih dulu Raka punya sahabat terus sahabatnya itu ngehianatin dia jadi mungkin dia gak mau punya sahabat lagi kali gara-gara dia gak mau di khianati lagi.” Kata Shella.
“Ya, ampun kesian banget sih dia.” Aku baru tau di balik Raka yang ceria ternyata banyak masalah yang menimpanya.
Istirahat ini aku ingin ke perpustakaan buat nyari buku aja tapi di sana sudah ada Raka, aku mencoba untuk mendekatinya.
“Hei, lagi baca apa?” Tanyaku sekedar basa-basi aja.
“Lagi baca novel aja nih.”
“Owh.”
“Kebetulan lo ada di sini gue pengen ngasih pengakuan sama lo.”
“Pengakuan apa?” Aku penasaran apa yang akan di bicarain Raka.
“Sebenernya gue suka sama lo La, tapi gue gak mau ngenal kata-kata cinta atau pacaran karena gue masih trauma sama kejadian satu tahun lalu.”
“Hmm, kalau boleh tau ada kejadian apa satu tahun lalu?”
“Dulu aku pernah punya pacar namanya Zania Arilla Putri tapi sekarag dia udah ninggalin gue.” Kata Raka.
“Kok bisa?” aku heran dengan cerita Raka itu.
“Satu tahun lalu dia ngalamin kecelakaan dan kecelakaan itu membuat dia ninggalin gue buat selama-lamanya.” Raka sedang menangis meskipun air matanya gak jatuh ke pipinya.
“Udah dong jangan sedih lagi. Dia juga pasti udah bahagia di sana.” Aku hanya ingin menghibur Raka.
“Iya dia juga pasti gak pengen gue sedih kaya gini.” Raka mulai mencoba untuk tersenyum kembali.
“Ya, udah lo kan masih trauma lagian gue juga belum mau pacaran masih pengen menimati hidup sendiri jadi kita sahabatan aja yah.”
“Serius lo mau jadi sahabat gue?”
“Iya.” Aku memberikan senyuman ketulusan kepada Raka.
“Thanks yah.”
Burung-burung itu memiliki rahasia tersendiri, mereka terbang bebas itu bukan tak ada beban. Mereka terbang di langit sana itu adalah perjuangan untuk tetap dapat hidup.
END
Crieted by Della Audita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar